Skip to main content

Sukmawati Kisahkan Kelahiran Sang Saka Merah Putih


Bengkulu, Rakjat.Com - Ketua yayasan Fatmawati Soekarno, Sukmawati saat hadiri acara peresmian prasasti monumen Ratu Agung Fatmawati Soekarno menyampaiakan kebanggaanya kepada masyarakat Provinsi Bengkulu saat menyampaiakan katasambutanya di simpang lima ratu sambang, Kota Bengkulu.

Sukmawati menyampaiakn bahwa Ibu fatmawati Binti Hasanudin sebagai ketua DPW Muhammadiyah yang sangat kagum dan sangat hormat kepada Ir. Soekarno sebagai pemimpin bangsa untuk kemerdekaan Republik Indonesia.

"Dengan demikian jatuh cintalah Soekarno Kepada gadis cantik tersebut dan sudah menimangnya secara diam-diam kepada pak Hasanudin ketika jepang mulai masuk itu tanpa perlawanan Belanda kabur berlari terbirit-birit pergi karena Belanda sudah babak belur,"ungkap Sukmawati. Rabu, (5/2/2020)

"Disitu sudah dititipkan pesan kepada pak Hasandin dan kepada ibu saya Fatmawati, pada pak Hasandin beliau berkata. jangan diserahkan kepada siapa-siapa gadis ini, Fat adalah takdir saya untuk saya persunting nanti menjelang kemerdekaan," kisahnya.

"Disini pak Hasandin tak berani menerima pinangan dari siapapun kecuali dari Ir. Soekarno. Maka Terjadilah pernikahan dan diboyonglah ibu Fatmawati ke Djakarta. Disitu di Jakarta tahun 45 sebelum proklamasi Bung Karno memberikan tugas suci yang mulia kepada seorang Ibu yang sedang mengandung anak pertamanya yaitu kakak saya yaitu Guntur Soekarno Putra,"jelasnya.

Lanjut Sukmawati saat menyampaikan rasa bangganya dengan keinginan Ir. Soekarno apa yang diinginkan Soekarno pemerintah Jepang kabulkan.

"Bung Karno meminta kepada Jepang bahwa saya mau kain merah dan putih. Kemudian disediakanya oleh jepang kain gelondongan merah dan putih. Lalu kain itu diserahkan kepada ibu Fatmawati untuk menjahit bendera. Ini akan menjadi Bendera Kebangsaan Indonesia, maka ibu Fatmawati menjalankan tugas suci untuk menjahit benderah merah putih," kisahnya.

"Inilah sedikit kisah perjalanan bendera merah putih jahitan  Putri kelahiran Bengkulu ini yang sakral sampai Akhirnya lapuk,"tutupnya. (P3)